BREAKING NEWS

Penganiayaan Brutal di Pondok Pesantren Daarul Abror, Korban Terbaring Tak Berdaya, Pihak Pengurus Justru Diam

SERGAPNEWS.COM, BANGKA, 12 April 2026 – Pengeroyokan sadis yang melibatkan sepuluh siswa senior terjadi di Pondok Pesantren Daarul Abror, Desa Kace, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Korban, Abdul Hafidz Paturohman, seorang siswa SMA kelas I, kini terbaring di rumah sakit dengan luka-luka parah setelah dipukuli habis-habisan oleh kelompok pelaku yang tak segan-segan melampiaskan kekerasan fisik. Sungguh ironis, kejadian ini terjadi di tempat yang seharusnya memberikan pendidikan moral, bukan kekerasan.

Meskipun peristiwa ini telah menghebohkan warga setempat, pengurus Pondok Pesantren Daarul Abror memilih untuk menutup mulut dan bungkam. Mereka seakan-akan lebih mementingkan reputasi pondok daripada mengungkap kebenaran dan memberi keadilan kepada korban. Pihak keluarga Abdul Hafidz menuntut agar pelaku dihukum tanpa ampun, dan pengurus pondok diberi sanksi tegas atas kelalaiannya.

Hingga kini, pihak pengurus pesantren tidak memberikan respons apapun, seolah-olah kasus ini bisa diselesaikan dengan cara diam. Padahal, korban masih terbaring tak berdaya di rumah sakit, sementara para pelaku bebas berkeliaran tanpa rasa takut. Ini adalah bentuk pengabaian yang jelas dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan siswa.

Keluarga korban tidak akan tinggal diam. Mereka menuntut agar pelaku-pelaku pengeroyokan tersebut diproses sesuai hukum yang berlaku dan mendapat hukuman yang setimpal. Tidak hanya itu, mereka juga mengutuk keras sikap diam yang ditunjukkan oleh pihak pengurus pondok pesantren. "Kami tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja! Pelaku harus dihukum, dan pengurus pesantren harus bertanggung jawab!" ujar salah satu anggota keluarga korban.

Ironisnya, kejadian ini bukanlah kasus pertama di lingkungan pendidikan yang melibatkan bullying. Namun, yang membedakan kasus ini adalah sikap tidak peduli dan penuh kebohongan yang dipertontonkan oleh pengurus pondok pesantren. Tidak ada upaya untuk melindungi siswa atau mencegah kekerasan. Ini jelas mencoreng dunia pendidikan, yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak.

Dengan sikap pengurus pondok pesantren yang tidak bertanggung jawab, sangat mungkin kejadian serupa akan terulang. Kalau kita tidak bertindak tegas sekarang, siapa yang akan menjamin keselamatan anak-anak kita di masa depan? Tidak ada ruang untuk kekerasan di dunia pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non-formal.

Keluarga korban kini menunggu keadilan yang pantas untuk Abdul Hafidz, serta meminta agar pihak yang berwenang turun tangan secepatnya. Masyarakat setempat juga mendesak agar pihak berwenang tidak membiarkan kekerasan semacam ini terulang, karena sudah cukup banyak korban yang harus menderita akibat kebiadaban seperti ini.  (*)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image