BREAKING NEWS

Di Balik Sulitnya Nelayan Mendapat Solar, Muncul Dugaan Gudang Penampungan BBM Subsidi di Pantai Labu



Sergapnews.com Deli Serdang Pantai Labu - Di saat nelayan kecil di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, harus pontang-panting mencari solar subsidi demi bisa melaut, sebuah temuan di lapangan justru memunculkan tanda tanya besar. Tim investigasi mendapati sebuah gudang yang diduga dijadikan tempat penampungan solar subsidi dalam jumlah besar. Kondisi tersebut memantik keresahan masyarakat dan menimbulkan dugaan adanya penyimpangan dalam rantai distribusi BBM bersubsidi yang seharusnya menjadi hak nelayan.


Berdasarkan hasil penelusuran, gudang berukuran sekitar 4 x 8 meter itu diduga menyimpan puluhan jerigen berkapasitas besar yang tersusun rapi di dalam bangunan. Aktivitas di lokasi disebut warga bukan berlangsung sehari atau dua hari, melainkan telah berulang kali terlihat tanpa adanya tindakan yang diketahui masyarakat,Sabtu (25/2/7/26).


"Kami sering melihat jerigen dibawa masuk ke gudang itu. Kami menduga isinya solar subsidi. Sementara nelayan di sini justru kesulitan mendapatkan solar untuk melaut," ungkap seorang ibu rumah tangga yang meminta identitasnya dirahasiakan.


Pengakuan tersebut diperkuat keterangan sejumlah warga lainnya. Mereka mengaku heran karena di tengah kelangkaan solar yang dikeluhkan nelayan, justru terdapat dugaan penumpukan BBM subsidi di sebuah gudang. Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi ironi yang sulit diterima. Program subsidi yang dibiayai negara untuk menopang kehidupan nelayan kecil justru diduga tidak sepenuhnya dinikmati oleh pihak yang berhak.


Tim investigasi juga menemukan bahwa tidak jauh dari lokasi gudang terdapat SPBUN PT Anggitta Nomor 18.205.026 di Dusun III, Desa Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu. Kedekatan lokasi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat mengenai tata kelola distribusi solar subsidi di kawasan pesisir Pantai Labu.


Sejumlah nelayan mengaku tidak jarang harus pulang dengan tangan hampa karena kesulitan memperoleh solar subsidi. Akibatnya, sebagian memilih mengurangi frekuensi melaut, bahkan ada yang terpaksa membeli BBM dengan harga lebih tinggi agar tetap dapat bekerja. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan keluarga nelayan yang sehari-hari bergantung pada hasil tangkapan laut.


Di sisi lain, dugaan adanya penampungan solar subsidi dalam jumlah besar memunculkan desakan agar pemerintah dan aparat penegak hukum tidak menutup mata. Warga menilai persoalan ini tidak cukup hanya dijawab dengan klarifikasi, tetapi harus dibuktikan melalui pemeriksaan lapangan, penelusuran asal-usul BBM, legalitas penyimpanan, hingga jalur distribusi yang digunakan.


Masyarakat meminta Pertamina, BPH Migas, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta aparat penegak hukum segera melakukan inspeksi menyeluruh. Audit terhadap distribusi solar subsidi dinilai mendesak dilakukan agar dapat diketahui apakah penyaluran BBM telah sesuai dengan kuota dan peruntukannya atau justru terjadi penyimpangan yang merugikan nelayan serta keuangan negara.


Warga menegaskan, apabila dugaan tersebut terbukti, siapa pun yang terlibat harus diproses sesuai hukum tanpa pandang bulu. Mereka berharap penegakan hukum tidak berhenti pada pemeriksaan administratif semata, tetapi juga mengusut tuntas pihak-pihak yang diduga mengambil keuntungan dari distribusi BBM subsidi yang menjadi hak masyarakat kecil.


Red/Tim


KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image