BREAKING NEWS

ID Card Bukan Tolok Ukur, Karya Jurnalistik Penentu Jati Diri Wartawan

SERGAPNEWS.COM, ACEH – Di tengah derasnya arus informasi digital, batas antara wartawan profesional dan sekadar pemegang kartu pers semakin kabur. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran di kalangan praktisi dan pemerhati jurnalistik, sebab tidak sedikit orang merasa layak menyandang predikat wartawan hanya karena memiliki ID Card media, tanpa memahami tanggung jawab, etika, dan kompetensi yang melekat pada profesi tersebut.

Pengamat dunia jurnalistik yang akrab disapa Eyang menilai kondisi ini merupakan persoalan serius yang dapat menggerus marwah pers. Menurutnya, kemudahan mencetak kartu identitas media membuat sebagian orang menganggap legitimasi sebagai wartawan cukup dibuktikan dengan selembar kartu, padahal hakikat profesi jurnalistik jauh melampaui atribut tersebut.

"Jurnalis sejati lahir dari proses. Dari turun ke lapangan, menguji kebenaran fakta, menulis sesuai kaidah jurnalistik, hingga berani mempertanggungjawabkan setiap kalimat yang dipublikasikan," tegas Eyang.

Ia menekankan bahwa pembeda utama antara wartawan dan pemegang kartu pers adalah karya jurnalistik. Rekam jejak seorang jurnalis tidak diukur dari kartu yang menggantung di leher, melainkan dari konsistensi menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta kepercayaan publik yang dibangun melalui integritas selama bertahun-tahun.

Menurut Eyang, realitas di lapangan menunjukkan masih ada pihak yang lebih sibuk memamerkan kartu pers daripada menunjukkan hasil liputan atau karya jurnalistiknya. Padahal profesi wartawan diuji oleh kemampuan menggali fakta, mengonfirmasi informasi, memahami kode etik jurnalistik, dan menyajikan berita yang berpihak pada kepentingan publik, bukan sekadar memiliki identitas media.

"Masyarakat harus cerdas. Jangan silau hanya karena seseorang menunjukkan kartu pers. Tanyakan karya jurnalistiknya, lihat etikanya, dan nilai keberpihakannya terhadap kebenaran," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kredibilitas seorang wartawan tidak lahir secara instan. Reputasi dibangun melalui proses panjang, kerja keras, disiplin, serta keberanian menyampaikan fakta meski menghadapi berbagai tekanan.

"Berhentilah mengukur wartawan dari ID Card-nya. Ukur dari tintanya. Dari keberaniannya menulis kebenaran. Dari tanggung jawabnya kepada publik," pungkas Eyang.

Lebih lanjut, Eyang menegaskan bahwa wartawan sejati adalah mereka yang menjunjung tinggi profesionalisme, memegang teguh kode etik jurnalistik, serta menaati kaidah pers dalam setiap proses peliputan dan penulisan berita. Sebab pada hakikatnya, profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah untuk menyampaikan informasi yang benar, mencerdaskan masyarakat, dan menjaga pilar demokrasi.


Penulis: Hendrik
KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image